INFORMASI: Blog ini akan di-update secara berkala.

Tawang Semarang

Subuh hari di stasiun tawang, semarang.
Saat itu aku sedang mengantre di toilet yang berdekatan dengan tempat wudhu di masjid kecil yang terletak di ujung stasiun tawang. Tempat wudhu itu tidak ditentukan jenis kelaminnya. Sepertinya unisex. Aku tidak begitu memikirkannya. Fokusku tertuju pada toilet yang akan aku masuki, namun masih ada orang di dalamnya.
Cukup lama aku menunggu. Tetapi bukan masalah besar bagiku. Toh aku tak kebelet dan tak terburu-buru. Dalam pencahayaan yang kurang, tiba-tiba seseorang wanita mendekat ke tempat wudhu. Dia seperti berkomunikasi kepadaku. Tenang, wanita ini bukan hantu. Wanita ini manusia biasa sepertiku dan juga kamu. Tapi aku tak memperdulikannya. Aku tidak mau GR dulu. Takut jika dia bukan berkomunikasi denganku. Kan aku yang nantinya malu.
Kemudian wanita itu mengajakku berkomunikasi lagi. Lebih tepatnya dia sedang bingung dan menanyakan kepadaku apakah tempat wudhu ini untuk wanita atau pria? Aku hanya menjawab sekenanya, wah kurang tau mba. Dan wanita yang lembut perangainya itu menerima jawabanku dengan penuh rasa terima kasih, meskipun jawaban itu tidak menjadi solusi bagi kebingungan dia.
Pintu toilet sudah terbuka, dan seseorag di dalamnya keluar denga perasaan lega. Aku memasukinya. Dan di dalam, aku terus saja terbayang penyesalan. Kenapa aku tidak menjawab dengan benar. Atau jika aku memang tak tau, aku membantunya dengan bertanya kepada seseorang yang mungkin sudah mengenali lingkungan masjid itu. Sebab, pasti wanita itu enggan bertanya dengan sembarang orang. Sifat pemalunya sungguh membuat aku tersipu, perangainya yang lembut juga buat aku jatuh hati padanya.
Huh! Tidak bisa seperti ini. Aku harus segera menemui wanita itu nanti selesai ibadah subuh. Aku akan menyapanya dna berbincang dengannya.
Aku masuk ke dalam masjid dan melaksanakan ibadah subuhku sendirian. Semuanya sudah melaksanakan ibadah subuh, dan aku juga tak melihat ada tanda-tanda akan hadir jamaah yang akan melaksanakan shalat subuh. Sebab itulah aku melaksanakannya langsung sendirian. Padahal, jamaah lebih baik daripada sendirian. Menikah lebih baik daripada single #eh.
Selesainya ibadah subuh dan memanjatkan doa sekedarnya. Aku segera keluar. Bukan aku tak mau berdoa berlama-lama. Jadwal kereta sudah semakin dekat. Di ruang tunggu, atasanku juga sedang menunggu untuk shalat subuh. Kami bergantian untuk menjaga barang. Aku harus cepat. Menyegerakan yang bisa disegerakan.
Aku berjalan menuju pelantaran masjid kecil itu, menuju sepatuku. Hatiku kembali berdegub. Wanita yang bertanya kepadaku tadi kembali aku lihat dan kini dengan raut wajah yang lebih jelas terlihat. Cahaya lampu yang lebih terang sedikit dari cahaya lampu tempat wudhu cukup membuatku leluasa menatap wajahnya. Ah, sepertinya…
Hahaha
Beginilah jika kita terjebak dalam kesendirian yang cukup lama. Melihat wanita yang tipenya sesuai, langsung saja beranggapan, sepertinya… dia adalah wujud dari doa-doaku. Hehehe
Wanita itu berjalan menuju pelantaran masjid. Aku sudah lebih dulu sampai dan segera mengenakan sepatuku. Dia menuju ke titik di mana ada dua orang yang sedang menunggu. Satu, wanita yang sudah cukup tua, yang aku yakini itu adalah Ibunya. Satu lagi seorang pria yang cukup besar tapi karakternya tak cukup sesuai dengan bentuk badannya, yang aku yakini mungkin itu adalah adiknya. Ragu, tidak begitu yakin. Mungkin saja itu suaminya. Kalau iya, patah lagi hatiku pada subuh itu.
Aku gugup dan bingung harus berbuat apa. Aku memutuskan untuk segera menyelesaikan ikatan sepatuku. Wanita itu memakai sendalnya dan pergi dengan dua orang yang sedari tadi menanti wanita itu melaksanakan ibadah subuh.
Setelah selesai. Hatiku kembali gelisah. Hatiku seperti membisikkan agar aku segera mengejarnya. Aku bangkit dan kemudian berjalan cepat menuju ruang tunggu. Aku bulatkan tekad dan niat untuk berbincang padanya.
Tapi apa daya, wanita itu sudah tak aku temui lagi wujudnya. Aku kira dia sedang menunggu jadwal keberangkatan kereta. Tapi aku salah. Sepertinya dia baru saja datang dari daerah lain dan wanita itu beserta dua orang yang menyertainya melanjutkan perjalanan ke luar area stasiun.
Duh. Bodoh sekali diriku.
Kini, wanita itu hanya menjadi rangkaian kata dalam akun facebook-ku :’)
“Wahai wanita manis tanpa nama yang aku temui di masjid stasiun tawang, semarang, subuh hari tadi. Semoga lain waktu kita bertemu kembali. Berkenalan dan berbincang panjang. Siapa tau ada hubungan yang bisa kita rancang.”

Comments

Berlangganan

Pengunjung