INFORMASI: Blog ini akan di-update secara berkala.

Semoga Kamu Obatku

Ini adalah pertemuan kedua kita. 
Di sebuah kedai kopi di tengah kota hujan, kita duduk berdua saling berhadapan. Maaf jika aku membuatmu menunggu lima belas menit dari waktu yang aku janjikan. Sore ini jalanan begitu padat dipenuhi oleh orang-orang yang sedang menikmati liburan. Tapi, sepanjang jalan, tak ada keluhan yang keluar dari mulutku, juga pikiranku. Aku hanya merasakan bahagia di sepanjang jalan menujumu. Entah apa arti rasa bahagia itu, belum aku dalami lebih jauh.
Sesampainya aku, di sudut bagian luar kedai kopi ku lihat kau sedang duduk menunggu. Ku kirimkan pesan padamu dan seketika matamu mencari wujudku. Selain rasa bahagia dalam hati, rasa bersalah karena terlambat juga menyelimutiku. Namun apalah daya, pria ini hanyalah pria yang kaku lagi cupu. Yang tak mengerti bagaimana cara berbicara pada seorang wanita yang menarik hatinya. Hanya kata maaf tanpa asalan saja yang bisa terucap yang mungkin hampir tak terdengar telinga. Di kedai kopi itu, kita habiskan banyak waktu bersama. Di temani dua gelas minuman yang menjadi saksi mati pertemuan kita. 
Pertemuan itu bukan tidak beralasan. Pertemuan yang membahagiakan hatiku itu terjadi karena kau menawariku obat untuk mengurangi sakit yang sedang aku derita. Bukan sakit yang parah. Tapi sakit itu sedikit memalukan untuk dicerita pada khalayak.
Saat kau menawariku obat pereda, tahu kah kau? aku bahagia. Sebab, saat pertemuan pertama kita di kedai kopi yang sama namun di meja yang berbeda, hatiku sudah menunjukkan sesuatu yang beda. Tak aku teliti lebih dalam perasaanku saat itu. Karena akupun masih belum melupakan wanita yang pernah aku sukai di masa lalu. Aku hanya takut perasaan itu hanyalah pelarian untuk mendistraksikan pikiranku. Dan aku tak terburu-buru mengambil kesimpulan kalau itu adalah rasa cinta yang sedang tumbuh. Aku takut akan mengecewakan hati yang tak memiliki salah apapun padaku.
Satu, dua hingga hampir enam jam waktu terlewat. Ini adalah pertemuan terlamaku berbincang dengan wanita. Segala hal kita bahas. Tentu diselingi dengan celetukan-celetukan garing yang keluar dari mulutku. Aku lakukan itu untuk menghilangkan rasa canggung yang ada pada diriku. Tak aku sangka, aku bisa sehebat itu menghilangkan gugup berbicara pada wanita. Mungkin itu karena aku tak ingin pertemuan kita itu berakhir dengan cepat. Bukan mungkin, tapi memang benar begitu tujuannya.
Aku terus saja mencari topik. Lompat melompat. Menanyakan segala hal yang terbesit dalam pikiran. Sesekali menanyakan tentang obat yang kau bawakan untukku sambil mencari topik lain yang bisa memperpanjang perbincangan kita hari itu.
Segelas kopi yang dibekukan menjadi kotak-kotak es yang dicampur dengan susu segar, sudah hampir habis aku seruput. Gelasmu yang berisi minuman teh hijau yang dicampur dengan lattepun sudah kosong isinya. Tak mau waktu berakhir, aku menawarkanmu untuk memesan makanan saat malam telah tiba. 
Pertemuan yang cukup lama, membuat hati yang pernah terluka ini semakin yakin bahwa kaulah orangnya. Iya, kaulah orangnya. Aku harap keyakinanku tidak salah. Perbincangan panjang bersamamu, membuatku nyaman entah bagaimana. Kau tak bosan mendengarkan celetukan garingku. Justru kau timpali dengan rasa kesal manja nan imut yang membuatku semakin suka, membuat hatiku luluh seketika. Dan aku semakin yakin, kaulah orangnya.
Baiklah, itu mungkin perasaan bahagia yang bisa aku tuangkan dalam kata. Sekarang kita bahas kerumitan pikiranku dalam cinta.
Jujur, aku senang dengan perasaan ini. Perasaan yang menunjukkan bahwa belahan jiwaku telah aku temukan, tulang rusuk yang hilang untuk melengkapi, rasa-rasanya semakin dekat dengan diri ini. Bahagia, bahagia dan bahagia perasaanku saat ini.
Namun, yang jadi masalahnya, aku tak cukup berani untuk menyatakan rasa. Bagaimana caranya? aku tak tau. Tapi yang perlu kau tau, aku ingin serius denganmu. Menjalin hubungan yang tak sekedar bermain dengan ikatan yang terucap secara lisan. Aku ingin hubungan ini tertulis dalam satu buku yang diimpikan banyak pasangan, menandakan hubungan sah dalam pandang agama dan negara. Sebab sudah bukan masanya lagi aku menjalin hubungan seperti remaja-remaja tanggung di luar sana. Aku juga sudah cukup lelah dengan cinta yang menggebu-gebu dengan gejolak muda. Ini saatnya aku memikirkan hubungan yang serius dan dewasa. 
Tapi, menuju itu, jika kau benar mau, kau harus bersabar. Sebab, aku masih belum siap untuk merealisasikannya dalam waktu dekat. Dan jikapun ingin segera direalisasikan, aku harap kita bisa berjuang bersama-sama untuk mewujudkannya. Jadi bukan hanya aku saja. 
Mungkin ini terkesan aku adalah pria yang tak bersikap seperti seutuhnya pria. Aku bisa saja bertanggung jawab penuh atas itu. Tapi, ya itu tadi, tak bisa dalam waktu dekat. Kan hidupku belum pasti pundi-pundinya, dan juga belum jelas akan ke mana arahnya. Kalau kau ingin segera, aku harap kita bisa berjuang bersama-sama. Kita berdua saling mendukung dan memberi semangat untuk menuju tujuan yang diimpikan banyak insan manusia.
Jika kau siap seperti itu, aku juga siap dan akan berusaha lebih keras lagi mulai sekarang.
Hahaha.
Lucu sekali aku berkata-kata, seolah kau sudah menerima.
Padahal, untuk menyatakan rasa padamu saja belum tentu aku berani. Bagaimana caranya aku juga masih bingung memikirkannya setengah mati.
Baiklah, sekarang fokusku adalah mengumpulkan keberanian untuk menyatakan rasa ini padamu. Memikirkan dengan cara apa yang tepat untuk mengungkapkannya padamu. 
Jika kau baca ini, dan pun kau setuju, doakan aku.
Aku harap kau sudi menerimaku.
Oh iya, maaf, obatnya masih belum rutin aku konsumsi. Tapi tenang, ke depannya akan aku minum sesuai yang kamu anjurkan padaku. Terima kasih obatnya! Aku harap kau punya obat lain untukku.
Yaitu, kamu.

Sekilas info: Pre-order buku Distraksi Patah Hati edisi spesial satu tahun masih dibuka. Hanya Rp70.000,- disertai tanda tangan dan bonus postcard yang berisi pesan spesial dari aku, silakan pesan melalui whatsapp dengan klik link bit.ly/distraksispesial

Comments

  1. Semangattt bang Pialang. Pantang pulang sebelum menang. Pantang pulang sebelum menyatakan.

    ReplyDelete
  2. Aku seperti sedang membaca kisah hidupnya bang dayat nih. Eheh ntah ini kisah nyata atau bukan. :p

    ReplyDelete

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar sebagai bentuk apresiasi kamu terhadap karya tulisku.

Berlangganan

Pengunjung