INFORMASI: Blog ini akan di-update secara berkala.

Manusia Berbahaya

Malam hari yang sepi, gelap gulita menyelimuti sebagian dunia. Dalam kedinginan malam yang menusuk pori-pori, Caka berdialog dengan Kanta tentang apa yang diketahui Kanta mengenai seseorang yang berambisi menjadi orang nomor satu di sebuah negeri antah berantah.
“Kanta, diantara orang-orang yang pernah kau kenal, adakah dari mereka yang berambisi menjadi penguasa negeri yang kita tempati saat ini? negeri yang belum lagi makmur dengan kemiskinan masih merajalela di mana-mana.”
Dengan menarik nafas dalam-dalam, Kanta mencoba menceritakan apa yang ia ketahui tentang orang-orang yang dikenalnya. Sebisa mungkin dia menceritakan dengan objektif tanpa ada rasa kesal dan dendam saat mereka masih saling mengenal satu sama lain.
“Aku tidak tau bagaimana kau bisa menanyakan hal itu padaku. Rasa penasaranmu sungguh besar. Bagus! Pertanyaanmu kali ini tentang kepedulian terhadap negeri ini.”
Angin bertiup lembut di depan mereka berdua. Kesejukan mengampiri.
“Dahulu, aku pernah kenal dan selalu bersama dengan seseorang yang sedang kau tanyakan. Dia berambisi untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini. Dia mengumandangkan ke semua orang sekaligus meminta dukungan. Dia mendengar segala keluhan yang ada tentang apa yang harus diperbaiki dari negerinya. Tapi….”
Kanta terdiam sesaat.
“Sayang, orang-orang disekitarnya tak pernah ia dengar. Dia selalu berjanji pada orang-orang terdekatnya, namun tidak pernah direalisasikan olehnya.”
“Maaf aku potong Kanta. Aku ingin bertanya, apakah kau salah satu orang terdekatnya dan janji-janjinya padamu tak pernah ia realisasikan?”
“Benar Caka. Tidak hanya aku. Semua orang terdekatnya yang percaya kalau mimpi-mimpi mereka bisa diwakilkan olehnya pun juga hanya diberi janji-janji manis seperti angin segar malam ini yang menyejukkan jasad. Tapi, itu hanya bersifat sementara. Esok, ketika matahari terbit dan terik berada di atas kepala. Semua akan merasa gerah dan panas.”
Kanta melanjutkan, “Kini, ambisinya masih sama. Dan aku akan melihatnya dari jauh. Mengamati perkembangannya dalam mewujudkan ambisinya yang gila.”
“Lantas, kau hanya sekedar mengamati saja?” tanya Caka pada Kanta.
“Tidak Caka. Kau kira aku hanya mengamati? Mengamati hanya sekedar melihat seperti apa perkembangannya. Jika dia bisa mewujudkan ambisinya. Maka aku akan semakin keras menjaga.” Kanta berhenti sejenak, mengatur nafasnya.
“Kau tau Caka? Orang-orang seperti ini sungguh berbahaya. Dan aku akan terus mengamatinya dari jauh. Ketika dia menyimpang dari janji-janjinya kepada rakyat yang miskin melarat, maka aku akan bersuara paling keras menentangnya. Membela orang-orang yang dirugikan olehnya. Aku akan berdiri paling depan untuk menghajarnya dan menginjak tengkuknya. Tidak akan kubiarkan dia merugikan sebangsaku yang hidupnya jauh dari kata layak untuk hidup.”
“Mengapa kau anggap temanmu itu berbahaya, Kanta?” tanya Caka yang otaknya sedang bekerja keras menyerap setiap perkataan Kanta dan masih diliputi banyak rasa penasaran yang besar.
“Caka, tak kau serapkah penjelasanku di awal tadi? Dia mendengarkan mimpi-mimpi orang disekitarnya. Kemudian memberikan angin segar pada kehidupan mereka yang terasa panas. Itu ia lakukan hanya untuk mengambil hati dan dukungan orang terdekatnya agar loyal kepadanya. Tapi setelah dia mendapatkan hatinya, ia terus mencekoki mereka dengan makna perjuangan untuk kepentingan orang banyak yang ia sendiripun tak tau mendalam makna perjuangan itu. Sebab, itu hanya lapisan luar mimpinya agar pendukungnya terus melekat padanya.” Kanta berhenti sejenak.
“Dan kau tau? mimpi-mimpi yang ia janjikan akan direalisasikan, itu tidak akan pernah terjadi. Bahkan padaku ia begitu sering menjanjikan banyak hal. Tapi, tak pernah ada yang dia realisasikan. Dia hanyalah pendusta handal, Caka. Pendusta handal! Ia selimuti mimpi busuknya dengan impian mulia untuk kepentingan orang banyak. Padahal ia hanya ingin mewujudkan mimpinya sendiri. Kau harus hati-hati dengan orang seperti ini, Caka. Hati-hati!” Kanta berhenti memberikan penjelasan.
“Baiklah, Kanta! Aku mengerti. Aku akan berhati-hati. Kabarkan aku jika orang yang kau kenal itu berhasil mewujudkan ambisinya. Jika dugaanmu benar, ia menyimpang dan merugikan sebangsa kita, aku akan berjuang di barisanmu! Membela bangsaku dengan nyawaku!”
Percakapan itupun berakhir. Secangkir kopi yang ada di hadapan mereka mulai dingin. Caka berujar pada Kanta agar menyeruput kopinya hingga habis. Lelah pasti menjelaskan cerita tentang orang-orang di masa lalu.

Comments

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar sebagai bentuk apresiasi kamu terhadap karya tulisku.

Berlangganan

Pengunjung