INFORMASI: Blog ini akan di-update secara berkala.

Aku Memang Pengecut

Aku memang pengecut.
Dan aku bukan lelaki yang bertanggung jawab.

Pada saat aku mengatakan bahwa aku menyukaimu di antara gadis-gadis yang pernah aku kenal dan yang pernah aku lihat, ketahuilah bahwa itu benar-benar tulus aku ucapkan dari hatiku. Setidaknya pada saat itu.

Responmu baik.
Itu yang membuatku lebih berani mendekatimu dan tak membutuhkan waktu lama dengan mantap aku mengatakan padamu kalau aku hendak menikahimu, menjadikanmu pendamping hidupku. Sudah bulat tekadku kala itu.

Tapi sayang, di tengah perjalanan hubungan ini aku mendadak takut. Seperti yang kau tuliskan dalam stories instagrammu, aku memang pengecut. Maafkan aku membuatmu menunggu lama kepastian janji yang sempat aku ucapkan padamu yang juga sudah diketahui oleh keluargamu. 

Aku memang pengecut.
Karenamu, aku menjadi lelaki yang pengecut.
Nyaliku mendadak ciut.

Hidupku belum lagi benar. Dengan hidup yang masih berantakan dan jauh dari kata layak untuk membangun sebuah bahtera rumah tangga, aku butuh banyak waktu untuk merapihkan dan menyiapkan segalanya. Dari segi finansial, akhlak, dan banyak hal lainnya perlu aku siapkan bukan agar pada saat kita menjalani hubungan itu bisa meminimalisir terjadinya hal-hal yang tak kita inginkan.

Aku sedang berjuang.

Segalanya aku lakukan untuk menepati janjiku padamu. Aku berusaha dengan sekuat tenaga, segala upaya, dan kemampuan yang aku punya untuk mewujudkan janji itu. Mencoba segala peluang yang bisa menghasilkan pundi-pundi uang, semua demi kamu.

Tapi, di tengah-tengah perjuanganku, bukannya memberiku dukungan semangat, kau malah memburu-buru-ku dengan segala ucapan yang membuatku tambah pusing menjalani kehidupanku yang saat-saat ini masih sangat berantakan.

Komunikasi memang sengaja aku batasi. Ini bukan ke kamu saja, tapi ke semua teman dan kolega juga. Aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan berfikir dan bekerja. Aku sedang berusaha. Segala upaya aku coba. Bekerja menjadi budak korporasi, mengerjakan beberapa pekerjaan yang bisa aku jalani.

Tapi entah apa yang ada dipikiranmu, hingga kau bersikap begitu. Bukannya memberikan dukungan dan semangat untukku, tapi kau malah menyindir-nyindirku.

Aku memang banyak kurangnya,
tapi kalau kau tak bisa menerima kurangku, rasanya memang kita tidak bisa menyatu. Aku hanya takut, saat kita bersama nanti, kau malah lebih banyak menyesalnya. 

Baru segini saja kau sudah mengeluh ini itu,
bagaimana kehidupan kita setelah menikah? yang mana kau belum tahu banyak sepenuhnya tentang aku. Ada banyak kurangku yang belum kamu tahu yang sudah dapat dipastikan nantinya akan membuatmu lebih banyak mengeluh tentangku.

Aku mengakui, prilakuku membatasi komunikasi kepada semua orang adalah hal yang buruk. Tapi beginilah aku. Memang terlalu malas untuk membalas-balas. Bahkan itu dari seseorang yang aku jadikan prioritas.

Kalau kau tak tahan dengan itu, rasa-rasanya lebih baik kita berpisah saja. Aku bisa saja mengubah itu, tapi rasanya memang sulit dan membutuhkan lebih banyak waktu. Jika kau memang tak bisa menerima kurangku yang satu ini di antara banyaknya kurangku, rasanya kau harus cari yang jauh lebih baik dari aku.

Kan percuma juga kau menjalin hubungan dengan lelaki pengecut seperti aku. Yang tidak bisa memberikan kepastian janji yang sudah aku ucapkan.

Maaf jika janjiku kini kau anggap sebagai dusta yang entah kapan akan ditepati. Maaf juga jika aku pamit undur diri. Aku—lelaki pengecut dengan kesulitan hidup yang belum bisa aku atasi—sungguh tidak layak untukmu. Carilah yang lebih baik daripada aku.

Salam,
dari lelaki pengecut, menurutmu.

Sekilas info: Pre-order buku Distraksi Patah Hati edisi spesial satu tahun masih dibuka. Hanya Rp70.000,- disertai tanda tangan dan bonus postcard yang berisi pesan spesial dari aku, silakan pesan melalui whatsapp dengan klik link bit.ly/distraksispesial



Comments

  1. membaca tulisan ini aku jadi lebih mencoba berfikir positif pada laki-laki yang memberi sedikit waktu pada wanitanya, namun, tak semua laki-laki sepertimu. :)

    ReplyDelete
  2. Dibalik sindiran dan kata pedas dari wanita, percayalah ada tangisan yang terus mengalir dan kebingungan arah yang menghantuinya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar sebagai bentuk apresiasi kamu terhadap karya tulisku.

Berlangganan

Pengunjung