INFORMASI: Blog ini akan di-update secara berkala.

Jangan Menungguku

Jangan menungguku,
aku belum tentu hadir menghampirimu.

Bukan, ini bukan ungkapan bahwa aku meragukan dirimu untuk menjadi kekasihku. Kalau boleh jujur, kau itu bagai mutiara berharga, terindah, dan termahal yang pernah aku temukan. Ada banyak yang menginginkanmu, dan keberuntungan besar bagiku bisa menemukan dirimu.

Tapi sayang, aku tak bisa memilikimu.

Aku ragu,

Aku ragu dengan diriku sendiri apakah layak memiliki mutiara seindah itu? Aku hanya sampah. Dengan hidup yang tak pasti, berantakan, dan belum tentu apakah bisa didaur ulang menjadi sesuatu yang bernilai di mata orang-orang.

Kita berasal dari tempat yang berbeda.
Tempatku di pembuangan, tempatmu di dasar lautan.

Kau tahu? di tempat pembuangan, tidak ada yang mau ke sana selain petugas kebersihan dan mungkin orang-orang yang mencoba mencari keberuntungan karena sulitnya ekonomi kehidupan mereka. Sedang di tempatmu, di dasar lautan, orang-orang penasaran dengan apa yang ada di dalam sana. Manusia dari segala jenis mempertaruhkan harta, tenaga, dan bahkan nyawanya untuk menyelam ke dasar. Mereka berusaha menciptakan teknologi secanggih-canggihnya untuk bisa masuk ke dasar sana. Karena apa? karena mereka meyakini ada sesuatu yang berharga. Mereka ingin membawamu ke istana-istana yang megah untuk dimiliki oleh orang-orang berduit dan hidup makmur.

Kan memang begitu, sesuatu yang berharga akan di tempatkan Tuhan pada tempat-tempat yang sulit diraih. Hanya orang-orang tertentulah yang bisa meraihnya. 

Sedangkan sampah, lokasinya mudah dijangkau oleh manusia. Tapi tak banyak orang yang ingin mengunjungi dengan kesadarannya sendiri.

Aku hanyalah sampah.
Dengan hidup yang berantakan, tak tahu arah tujuan, dan tak tahu bagaimana keluar dari tempat pembuangan. Aku perlu banyak waktu untuk merapihkan, berpikir dan berusaha keluar dari tempat ini.

Jikapun kau menginginkan aku, kau harus sadar bahwa semesta tidak pernah menginginkan kita bersatu. Sebab, sampah tidak bisa bersanding dengan mutiara. Itu bukan jamaknya.

Sampah tetap akan berakhir di tempat sampah.
Sedang mutiara akan berada di istana-istana yang megah.

Hanya orang-orang yang berjuang keras yang bisa meraih mutiara indah di dasar lautan. Dan orang itu bukan aku. Bukan karena aku enggan berjuang, tapi aku sudah dipastikan tidak bisa, tak ada sedikitpun kemungkinan buatku. 

Memangnya kenapa mutiara itu bisa dihargai dengan harga tinggi? Itu karena menyelam ke dasar lautan bukanlah hal mudah untuk dilakukan. Kau perlu pengalaman dan pengamanan tingkat tinggi agar tidak membunuh diri sendiri. Bagaimana bisa sampah menyelam ke dasar? sampah hanya bisa mengambang di atas lautan, terombang-ambing tanpa tujuan, terdampar di sebuah pulau dan tetap saja berakhir kembali di tempat pembuangan.

Begini saja,
jika pun kita saling cinta.
Biarlah kisah ini mengalir sewajarnya.

Entah ujungnya jadi atau tak jadi, tak mengapa. Aku tak akan menangisi dan kaupun jangan menangisinya. Kita bersepakat saja untuk jatuh cinta dengan biasa saja. Dengan siapapun dan di manapun kita berakhir, kita terima saja nasib kita. Kan untuk bahagia tak mesti bersama. Ada kebahagiaan-kebahagiaan lain yang bisa kita dapatkan, meskipun aku merasa bahwa bahagia terhebatku adalah saat bersamamu.

Kita biarkan diri mengalir sewajarnya.
Dan kau jangan menungguku,
sebab aku belum tentu hadir menghampiri dirimu.

Comments

  1. Brow mampir juga ke blog ane kelimpit.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Dear mas Dayat,
    Ngebaca baris terakhir blog di atas 👆
    Jika aku jadi kamu,
    Jangan patah semangat ✊😊
    Jika aku di posisi kamu ni,
    Tetap nikmati rasa di hati mu,
    Tuhan punya cara ,
    Keep fight ✊😊.
    "Jika aku menemukan nya, setidak nya jarak ku dengan kenyataan tidak terlalu jauh".
    So,
    Tetep rasional jika membahas cinta 😋

    ReplyDelete

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar sebagai bentuk apresiasi kamu terhadap karya tulisku.

Berlangganan

Pengunjung