Jika Aku Menikah, Nanti...

Jika aku menikah, nanti…

Aku akan pastikan kalau itu berasal dari keinginanku sendiri. Tidak dipaksa siapapun dan bukan pula pengaruh dari cerita-cerita yang diromantisasi oleh penulisnya; yang sudah pasti banyak dibubuhi bumbu-bumbu hiperbola agar terkesan indah sepenuhnya.

Bukankah dalam sebuah hubungan selalu ada dinamika naik turun  yang akan terjadi? Suka dan duka akan kita rasakan dalam perjalanan mengarungi lautan kehidupan pernikahan. Maka, sebelum pelayaran dimulai, alangkah baiknya kita merancang dan membangun bahtera rumah tangga dengan sangat baik dan hati-hati agar kokoh dan rintangan apapun bisa dihadapi dan dilewati.

Hati-hati butuh ketelitian, ketelitian butuh waktu. Maka, tergesa-gesa melaksanakan pernikahan hanya karena pengaruh omongan dan lingkungan itu tidak baik. Bagaimana bisa kita merancang dan membangun sesuatu dengan baik bila kita berfokus pada apa yang orang lain katakan?

Jika aku menikah, nanti…

Aku harus memastikan terlebih dahulu niatku melangkah ke tahapan ini. Jangan sampai aku menikah karena berharap akan ada yang mengurus hidupku.

Tidak, bukan itu tujuan pernikahan—setidaknya yang aku yakini.

Menikah adalah kesepakatan untuk bekerja sama. Dan yang namanya kerja sama tentulah bersifat dua arah. Keduanya harus saling; saling membantu dalam hal apapun itu—selama kapasitas diri memang mampu, saling mengerti, saling percaya dan saling-saling yang lain. Jika hanya satu pihak yang bekerja, itu penjajahan namanya.

Dan, aku tidak ingin hal itu terjadi.

Memang benar, lelaki adalah pemimpin dalam rumah tangga. Tanpa bermaksud merendahkan kedudukan wanita, aku setuju dengan pendapat itu. Namun kita perlu memahami juga bagaimana cara menjadi seorang pemimpin yang baik. Sederhananya, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak semena-mena. Sebelum memberikan keputusan, ia harus berdiskusi terlebih dahulu; mencari jalan terbaiknya. Pemimpin perlu mengetuk palu, dan sebelum ketuk palu terjadi, pemimpin harus membuka ruang diskusi sampai menemukan solusi terbaik dan sama-sama disepakati.

Dan, untuk mencapai tahapan itu, ada banyak hal yang harus aku lalui dan pelajari. Itu tidak mudah. Apalagi jika kita ingin mengaitkan dengan agama; pernikahan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Menikah bukan sekadar pelampiasan nafsu semata; jika kita hanya memandang pernikahan untuk menghindari diri dari zina, bukankah itu sama saja seperti membangun prostitusi di rumah untuk diri sendiri? Tolong, manusia tidak serendah itu.

Memang benar sex adalah kebutuhan, tapi kebutuhan tak selamanya menjadi keharusan. Selalu ada cara untuk mengakalinya agar tidak berfokus pada perkara yang sering menjerumuskan banyak manusia; terutama laki-laki.

Jika aku menikah, nanti…

Kuusahakan hatiku benar-benar mantap memilih kekasih hati yang akan menjadi pendampingku dan aku menjadi pendampingnya. 

Jangan sampai ketika aku sudah menikah dengan seseorang yang kuanggap tepat, nyatanya aku kecewa setelah melihat karakter aslinya saat kami tinggal dalam satu atap yang sama. Aku harus sepenuhnya siap menerima segala lebih dan kurangnya. Sederhananya, lebihnya aku suka dan segala kurangnya aku terima.

Dan itu tidak mudah untuk dilakukan.

Terkadang, mulut kita mungkin bisa manis dengan berkata “aku mencintaimu apa adanya, dengan lebih dan kurang yang kamu miliki.”

Padahal itu adalah kata-kata yang sakral untuk diucapkan. Jangan sembarang karena kita akan menelan ludah sendiri jika ternyata kita tak bisa melakukannya.

Dalam hidup ini, kita sebagai manusia memang pasti ada kurangnya. Namun, ada beberapa kurang yang bisa kita toleransi dan ada beberapa kurang yang tidak bisa kita terima. Standar penerimaan dan tidak ini tentu berbeda-beda untuk setiap orang.

Misal, ada seseorang yang tidak bisa menerima satu kekurangan dari pasangan yang tidak peka dan tidak bisa menunjukkan rasa sayangnya dengan sebuah ucapan dan sikap, namun ada pula yang bisa menerima hal itu. Pun sebenarnya aku salah jika itu menganggap kekurangan. Sebab itu salah satu karakter yang dimiliki oleh beberapa manusia. Dan untuk karakter orang yang seperti itu, diperlukan orang yang tepat yang bisa menerima seutuhnya.

Berat, menikah adalah hal yang berat untuk dilakukan.

Dan aku, menuliskan ini agar aku memiliki catatan pribadi untuk diriku sendiri—yang suatu saat bisa kubaca lagi dan akan kujadikan pedoman dalam hidupku jika aku sudah mulai keluar atau tidak sesuai dengan apa yang sudah aku tuliskan.

Kuharap, aku bisa mengubah diriku menjadi lebih baik lagi sebelum aku memasuki jenjang pernikahan. Amin.

Comments

  1. Nikah itu karena satu, yaitu ibadah Lillah (segala sesuatu yang disyari'atkan, yang dilakukan semata-mata untuk mengharap ridlo Ar-Rahman), karena segala amalan yang diniatkan selain itu (untuk mengharap ridlo Ar-Rahman), maka akan sia-sia dihadapan-Nya. Wallahua'lam.

    ReplyDelete

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar sebagai bentuk apresiasi kamu terhadap karya tulisku.

Popular Posts