Hari Ketiga, Di Tempat Pengasingan

Hari ketiga, di tempat pengasingan diri dari bisingnya dunia.

Aku melihat perahu kecil bertengger yang sesekali terombang-ambing kecil di tepian pantai tempatnya berlabuh. Perahu itu diikat dengan tali tambang pada batang pohon bekas yang ditanam cukup dalam di pasir yang agak jauh dari bibir pantai. Sepertinya sudah dua jam waktu yang kuhabiskan memerhatikan perahu itu. Andai saja ikatannya terlepas, pasti perahu itu sudah terombang ambing ke tengah lautan luas. Di sini aku belajar, betapa pentingnya sebuah tali pengikat. Sama seperti sebuah hubungan dengan adat ketimuran, kita diwajibkan untuk saling mengikat dengan akad. Meskipun hal itu tak menjamin salah satu dari mereka akan tetap melekat, namun setidaknya itu adalah satu bentuk usaha agar kita tidak ke mana-mana, tetap menetap, dan tahu di mana tempat kita berdiam seharusnya.

Aku tahu, ini terlihat aneh. Seorang diri, di tepian pantai serta memandangi perahu yang entah milik siapa. Meskipun terlihat membosankan, namun hal ini cukup menenangkan pikiran dari kebisingan-kebisingan yang ada dalam kepalaku. Setidaknya di sini aku bisa merenungi mana jalan hidup yang harusnya kutempuh; dan juga, di sini, aku mendapatkan sesuatu yang bisa kutuliskan dalam sebuah jurnal kehidupanku.

Keadaan mulai terasa sedikit lebih baik, meskipun lelah masih saja kurasakan ketika aku terbangun dari tidur di kasur yang empuk milik penginapan. Kebisingan dalam kepalaku juga mulai mereda, perlahan. Tenang yang selama ini kuinginkan mulai datang; menghadirkan mood yang bagus untuk menjalani hari-hari esok di tempat pengasingan.

Walau mental belum pulih sepenuhnya, namun tak apa, kan semua butuh waktu. Untuk mengobati luka gores saja membutuhkan waktu yang cukup lama sampai lukanya benar-benar mengering dan sembuh sepenuhnya. Apalagi luka mental yang tidak bisa kita lihat dengan mata.

Tiga hari sudah berlalu, aku belum juga menyentuh naskahku. Kurasa aku perlu beradaptasi beberapa hari di sini. Berkeliling pulau dan melihat semuanya agar setidaknya aku paham dengan situasi, setelah itu baru aku lebih tenang mengerjakan naskahku yang sudah kuabaikan cukup lama; saking lamanya, kurasa dia marah dan wajahnya tak ingin lagi menatapku, hahaha. Untung saja naskah hanya sekadar naskah, bukan seorang wanita yang perlu diberikan perhatian dan marah jika hal itu tidak ia dapatkan.

Dari pulau kecil yang letaknya di bagian tengah Indonesia, aku ingin berterima kasih yang sebesar-besarnya untuk teman-teman yang sudah memberikan perhatiannya padaku, memberikan kekuatan dengan kata-kata juga doa, dan memberikan dukungannya padaku dengan tetap menungguku kembali hadir di tengah-tengah kalian semua; dengan buku baru tentunya

Doa-doa baik yang kalian berikan, semoga itu juga yang kalian dapatkan untuk hidup kalian.

*Tulisan ini diposting oleh otomatis oleh Blogger.

Comments

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar sebagai bentuk apresiasi kamu terhadap karya tulisku.

Popular Posts