Makna Open Minded


Dalam setiap kesempatan duduk bersama teman-teman, aku selalu menyelipkan pembahasan mengenai definisi open minded menurut pandangan mereka. Beberapa di antaranya ada yang berpendapat sama dengan apa yang ada dalam kepalaku, namun beberapa teman lain punya definisi tersendiri; dan aku harus menghormati setiap pendapat yang keluar dari mulut mereka.

Perbincangan ini di mulai dari keresahanku melihat linimasa media sosial twitter yang dipenuhi oleh orang-orang yang katanya “open minded” tetapi pada praktiknya tidak seperti itu. 

Bagiku, open minded adalah sifat yang menerima semua pendapat meskipun pendapat itu sangat kontradiktif dari apa yang dia yakini. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah, menerima belum tentu setuju dengan pendapat tersebut. Penerimaan pendapat yang berbeda tak serta merta menyetujui cara pandang dan pikiran orang lain. Penerimaan adalah sebuah proses menyerap sesuatu untuk dipertimbangkan matang-matang. Andai saja setiap manusia memiliki sifat seperti ini, tentu kita tidak memerlukan bahasa kasar untuk mengumpat orang lain yang pendapatnya tidak sama dengan kita. Dan kita juga tak perlu menampilkan urat-urat di leher saat sedang berdebat dengan lawan bicara kita.

Di media sosial, klaim open minded seringkali digunakan oleh orang-orang yang ingin melanggar norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat. Mereka yang mengaku open minded terus bersuara dan tak malu bercerita perihal kebiasaannya yang suka sex bebas dan meminum minuman beralkohol. Sebentar, aku bukan menentang orang-orang yang senang dengan prilaku sex bebas dan gemar meminum minuman beralkohol (lagi pula meminum minuman beralkohol juga salah satu kebiasaanku saat hendak berdiskusi dengan teman-teman tongkrongan, tetapi tidak dengan kebiasaan sex bebas, lah mendekati wanita saja aku tak berani, bagaimana bisa nge-sex?) Poin yang kumaksud, aku tidak paham kenapa mereka merasa open minded hanya karena kedua topik pembahasan tersebut? Dan anehnya, saat ada yang menentang suara mereka terkait kedua topik itu, mereka lantas menyerang pemikiran berbeda itu dengan sebutan close minded. 

Begini, orang-orang yang open minded (berpikiran terbuka) tentu tidak pernah terbesit dalam pikiran mereka untuk menyerang pemahaman atau pendapat orang lain meskipun pendapat itu sudah terlalu kuno untuk diaplikasikan pada masa sekarang. Menurut pendapatku, sebagai orang yang katanya berpikiran terbuka, bukankah harus menerima pendapat-pendapat lain yang tidak sejalan atau bahkan sangat bertentangan?

Lagi pula siapa yang tidak kesal dengan orang-orang yang mengaku berpikiran terbuka, tetapi yang dibahas itu-itu saja?

Berpikiran terbuka artinya siap menerima dan senang berdiskusi tentang semua hal. Jika yang diperbincangkan hanya itu-itu saja, kurasa kita tidak berhak mengklaim diri kita sebagai orang yang berpikiran terbuka. Lah wong yang dibahas hanya itu-itu saja; bukankah itu tandanya kita tidak pernah berkembang atau tidak pernah naik kelas? Seperti topik mengenai pengucapan selamat natal oleh orang islam kepada umat kristiani yang setiap tahun tidak pernah habis dan selesai diperdebatkan. 

Mempunyai cara pandang yang berbeda dari orang pada umumnya tidak salah, yang salah ialah saat kita merasa cara pandang kita adalah cara pandang yang paling benar di antara yang lain. Orang yang berpikiran terbuka justru orang yang paling sering ragu dan skeptis dengan pendapatnya sendiri, namun bukan berarti orang yang berpikiran terbuka adalah orang yang tidak punya pendirian. Keraguan itu bertujuan untuk memperkaya cara pandangnya, ia selalu ingin menghadirkan banyak diskusi agar pandangannya (yang bisa saja salah) bisa semakin kuat atau bahkan semakin lemah dan mencari pandangan yang lebih baik lagi dari pandangan dia yang sebelumnya.

Jadi, berpikiran terbuka bukan tentang menentang norma-normal sosial saja. Bukan tentang bebas berpendapat tentang sex bebas, meminum minuman beralkohol atau bahkan mencandakan agama. Selama kita tahu tempat, situasi dan kondisinya, tidak ada yang akan mempermasalahkan pemikiranmu. 

Jika kamu punya cara pandang atau pendapat yang berbeda dari orang pada umumnya dan kamu melemparnya ke ranah publik, maka jangan salahkan mereka yang mencoba membagi pendapatnya dengan berbagai cara; entah berargumen secara intelek, bar-bar dengan bahasa-bahasa kasar yang siap menancap hatimu dan membuatmu terpacu untuk menyerang balik dengan cara yang sama, atau bahkan argumen yang dicampur dengan dua bahasa berbeda agar terlihat lebih intelek dari lawan bicaranya.

Dan untuk tulisan ini, aku juga tidak yakin apakah tulisan ini bisa dikatakan aku berpikiran terbuka atau malah sama saja dengan orang-orang yang kupermasalahkan di atas, hahahaha.

Comments

Popular Posts