Menghilang

Jika kamu sedang membaca tulisan ini, mungkin aku sudah berada di suatu tempat yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang; kota, pulau atau bahkan desa terpencil di pedalaman negeri ini. Pun bisa juga sedang berada di tempat yang familiar di telinga manusia, namun nyaman untuk beberapa orang yang ingin menghilang sementara dari lelahnya menjalani rutinitas kehidupan dunia.

Jujur, beberapa tahun belakangan ini aku merasakan depresi yang luar biasa; kurasa puncaknya terjadi dua atau tiga bulan belakangan ini. Aku merasa dunia begitu berisik—entah memang begitu adanya atau hanya aku saja yang merasakannya. Ada banyak suara yang mampir ke dalam kepalaku, dan kebisingan itu tak kunjung mereda. Bahkan, alkohol dan narkoba yang sempat kusentuh beberapa tahun lalu juga tak mampu menjadi solusi yang tepat sebagai obat penguat dari hari-hari yang berat. Keduanya hanya meredakan dan menghadirkan ketenangan sementara, namun saat kembali sadar dan kembali berhadapan dengan realitas, semuanya kembali sama; pusing dan bising yang diharapkan menghilang, tidak pernah benar-benar hilang sepenuhnya.

Kurasa, orang-orang sekitarku pun tidak pernah menyadari apa yang sedang kualami. Sebab, canda yang mendulang tawa selalu kulakukan di depan mereka semua untuk menutupi duka dan lara yang sedang kurasakan; yang menjadi penyebab hadirnya depresi (aku bahkan tidak tahu tingkatan depresiku sendiri, karena aku tidak pernah berkonsultasi dengan psikolog secara resmi. Biasanya aku hanya berkonsultasi dengan beberapa teman psikolog, sekadar menuangkan apa yang kurasakan dan mereka mendengarkan; sesekali memberikan saran dan masukan).

Ada banyak hal yang merasuki pikiranku; dan ini benar-benar mengganggu kehidupanku. Dan yang jauh lebih menyebalkan dari itu, kebanyakan dari pikiran-pikiran itu adalah hal yang tidak perlu untuk aku pikirkan pada saat-saat seperti ini; saat aku sedang dikejar deadline yang sudah lewat setahunan lebih dan tagihan dari para pembaca yang menanti buku terbaruku. Untuk itu, melalui tulisan singkat nan panjang ini, aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya karena telah menjadi orang yang gagal menepati janji dan gagal memberikan kalian asupan bacaan-bacaan yang bisa menghibur serta memberikan manfaat kepada kalian.

Hari demi hari amat berat rasanya untuk kujalani. Tidur yang harusnya menghadirkan tenang dan segar sudah tak pernah kurasakan lagi. Badanku begitu lelah dan remuk rasanya saat terbangun dari tidur panjang yang sudah sangat ideal durasinya seperti yang dianjurkan oleh para dokter. Ya, meskipun saat aku baru bisa memejamkan mata dan masuk ke alam bawah sadar hampir mendekati waktu subuh, tetapi kan durasi tidurnya tetap sama; minimal enam jam dalam satu hari.

Berbulan-bulan hal itu kurasakan sendiri dan tak pernah kuceritakan ke siapapun; bahkan ke anggota keluarga sekalipun. Lagi pula untuk apa? Keluarga tidak pernah benar-benar peduli. Mereka tidak ingin tahu permasalahan yang sedang kita hadapi. Depresi? Apa itu? Jika aku menceritakan hal ini, mungkin aku akan diajak pergi ke pengobatan alternatif dan aku disuruh untuk ruqyah. Pun aku akan diberikan ceramah-ceramah tentang agama agar lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa—yang mana aku sudah lebih khatam tentang hal ini.

Depresi tidak sesederhana itu. Memangnya apa guna para psikolog belajar ilmu tentang manusia selama bertahun-tahun? Rumit. Bahkan saat bertemu dengan psikolog pun kadang tak selalu menjadi solusi (jika kita tak menemukan psikolog yang tepat untuk kita).

Aku tahu, ini semua bermula dari kesalahanku yang begitu suka menunda-nunda. Saat semua sudah mendekati waktunya, aku sendiri bingung, semuanya bertumpuk dan membuat pusing. Keadaan yang semakin genting membuatku tak bisa memilah mana yang menjadi prioritas dan mana yang tidak; sebab segalanya adalah prioritas yang bertumpuk karena aku sering menunda-nunda.

Aku menyesal.

Keadaan semakin memukulku dan membuat beban di pundakku semakin berat saat mendengar kabar pimpinan redaksi Media Kita, Mas Agus Wahadyo berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa sebab sakit yang beliau derita—yang tak pernah beliau ceritakan kepada kami para penulis-penulisnya.

Tahun lalu, Mas Agus menghubungiku dan mengajakku untuk menulis di penerbit Media Kita. Saat itu aku senang luar biasa, karena Media Kita adalah penerbit yang kusuka. Jauh sebelum Mas Agus menghubungiku, aku sempat mencari tahu cara menerbitkan buku di sana dengan salah seorang editor lepas mereka. Sulit, katanya. Media Kita sudah punya jadwal terbit buku untuk berbulan-bulan ke depan dan kalaupun naskah diterima, perlu mengantri waktu terbit lebih lama dari yang diinginkan. Dan tanpa disangka-sangka, setelah setahun perbincanganku dengan salah satu editor lepas di sana, aku dihubungi oleh Mas Agus langsung. Senang rasanya diberikan kepercayaan seperti ini, namun aku juga menyesal sekali rasanya. Bagaimana tidak menyesal, aku yang diberikan percaya oleh Mas Agus yang juga begitu sabarnya menunggu naskahku selesai, malah tak sempat kutunaikan. 

Mas Agus, maaf jika sampai detik ini aku belum juga menyelesaikan janjiku kepadamu. Jujur, hari-hariku semakin berat setelah mendengar kabar dirimu pergi meninggalkan kami semua pada tanggal 30 Mei lalu. Berat rasanya. Kenapa dirimu pergi sebelum aku sempat menunaikan janjiku, Mas? Semoga, dari atas sana, di tempat terbaik yang diberikan olehNya, dirimu berkenan memaafkan keterlambatanku dalam menunaikan janjiku kepadamu.

Begitu juga untuk Abangda Falen Zaman, sang editor idaman yang dengan sabarnya membimbingku mengerjakan naskahku. Meski sering hilang-hilangan dan susah dihubungi, Abangda Falen tetap welcome saat aku kembali.

Aku tidak tahu bagaimana menghadapi situasi seperti ini. Dahulu, aku sempat merasakannya juga. Tepatnya pada lima tahun yang lalu saat aku memberanikan diri merantau ke Kota Bandung; seorang diri tanpa kenal sanak famili. Beberapa bulan kubutuhkan untuk mencari pekerjaan dengan bermodalkan ijazah SMA yang kata banyak orang tidak ada harganya. Ternyata, nasibku tak seburuk kata orang-orang. Sekitar dua bulan setelah aku mendaratkan langkahku di Kota Bandung, aku resmi mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan yang berada di daerah Cicaheum. Namun sayang, setelah mendapatkan pekerjaan itu aku memutuskan untuk keluar di bulan ketiga aku bekerja karena tidak tahan dengan sistemnya.

Setelah aku keluar dari pekerjaan pertamaku, aku sibuk mencari kerja ke sana-sini. Berbulan-bulan tak kunjung kudapatkan sampai pada akhirnya masa-masa sulit menghantamku. Uang tabunganku yang sedikit itu sudah habis. Di perantauan seorang diri membuat aku sulit untuk berpikir sehat. Aku mengakui, pada saat itu aku masih terlalu muda. Dengan pemikiran yang masih ala kadarnya, dengan mudahnya aku memutuskan keluar hanya karena ketidakcocokan dengan sistem perusahaan tempatku bekerja. Padahal, jika aku bersabar saja dengan hal itu, mungkin aku bisa lebih banyak mendapatkan pengetahuan seputar dunia kerja, mendapatkan banyak relasi dan juga teman-teman yang barangkali bisa membantuku jika saat kesulitan dalam hidup tiba.

Ya mau bagaimana lagi? Memangnya apa yang bisa diharapkan dari seorang anak yang terlahir dari keluarga yang berantakan? Hal-hal seperti bekal pengetahuan tentang dunia pekerjaan luput dibicarakan di meja makan atau saat-saat senggang bersama kedua orang tua yang ingin mengarahkan kehidupan anaknya; memberikan bekal-bekal tentang kehidupan setelah lulus dari bangku sekolah.

Kondisi itu adalah salah satu kondisi sulit yang pernah kualami. Bahkan, aku sempat berpikir untuk bunuh diri; menghilang sepenuhnya dari dunia ini. Namun semua itu digagalkan oleh pemikiranku yang enggan menyulitkan keluarga. Saking enggannya menyulitkan mereka, terbesit dalam pikiranku; jika aku memutuskan untuk mengakhiri hidup di kota orang, tentu keluarga akan repot mengurus jenazahku nantinya, hahaha. Lagi pula kami bukan dari keluarga yang kaya, pasti sangat berat sekali mengurus segalanya, nantinya.

Yah, namanya juga hidup, tentu ada fase di mana saat sulit melanda kita dan semua itu menjadi lucu setelah kita bisa berdamai dengannya.

Kini, fase itu kembali lagi dan beruntungnya saat ini aku sudah tak ada hasrat untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Bukan karena aku takut dengan risiko bunuh diri yang katanya pasti masuk neraka, hanya saja aku sudah sampai pada titik di mana tak ada hasrat untuk melakukan apapun, bahkan bunuh diri sekalipun.

Akhirnya, setelah berbulan-bulan menimbang-nimbang jalan mana yang akan kutempuh, aku menemukannya.

Mulai dari tulisan ini di posting dan dapat dibaca oleh orang banyak, aku memutuskan untuk menghilang sementara dari dunia yang sedang kujalani. Tenang, ini bukan surat perpisahan kematian, ini hanya tulisan pamit sementara.

Aku hanya ingin menghilang beberapa waktu; menenangkan pikiran, menjauhkan diri dari dunia maya yang begitu semu dan menyelesaikan janji-janji yang belum sempat aku tunaikan pada pembaca yang menanti bukuku selanjutnya.

Tulisan ini sebenarnya kubuat agar tidak ada yang bertanya-tanya tentang ketiadaanku di sosial media (meskipun aku tahu tidak ada yang bertanya jika aku menghilang dari dunia ini selamanya), tetapi setidaknya aku meninggalkan jejak untuk mereka yang penasaran dan bertanya-tanya.

Ini hanya beberapa waktu, tetapi akupun tidak tahu kapan tepatnya akan kembali lagi. Mungkin setelah semua lelah, depresi dan kebisingan dalam kepalaku mereda. Atau mungkin setelah aku selesai menulis naskahku yang sudah terbengkalai cukup lama. Atau mungkin aku akan kembali lagi saat manajerku menghubungiku, memberitahu kepadaku kalau ada kerja sama dari perusahaan besar yang ada di Ibu Kota, hahahaha.

Menghilang dan mencari tenang sih boleh saja, tetapi jika soal uang tetap harus bersedia. Kan melarikan diri dan menghilang mencari tenang juga membutuhkan biaya.

Sebenarnya, aku tidak ingin memilih cara ini, namun mau bagaimana lagi? Aku sendiri bingung dengan hidup yang sedang kujalani. Semakin aku mengikuti arusnya, aku semakin larut dan terlena dalam aliran airnya. Padahal, arus itu bukanlah arus yang harusnya kutempuh dan kulalui. Aku sampai lupa tentang mimpi-mimpi awalku menjadi seorang penulis yang bisa memberikan dampak baik untuk orang-orang, sekarang aku malah terlena dengan membuat konten demi konten di sosial media. Rasanya seperti sedang mengejar kefanaan dalam hidup. Meskipun aku tahu sumber uangku di situ, namun tetap saja, bukan itu jalan awal yang ingin kulalui. 

Baiklah, karena sudah terlalu panjang, kurasa cukup sampai di sini saja. Tulisan ini aku buat pada tanggal 10 Oktober 2020, tepat sehari saat Presiden Joko Widodo mencoba klarifikasi tentang Undang-Undang Cipta Kerja yang membuat kegaduhan di tengah-tengah warga negara. Sebuah klarifikasi yang sebenarnya tidak perlu karena tidak ada dasarnya, kan draft Undang-undangnya belum fina, jadi apa yang harus diluruskan?

Aduh, kenapa kembali bahas politik, ya? Ngeri juga saat aku mencoba menghilang sementara malah berubah jadi menghilang selamanya. Bau-bau order baru sepertinya sudah mulai terasa.

Yasudah, sampai di sini saja.
Lah, kenapa aku masih melanjutkan tulisan ini?
Heran deh.
Kenapa, ya?

Oh, aku tahu, mungkin berpisah denganmu adalah hal yang paling sulit untuk kulakukan di dunia ini; bahkan menghilang untuk waktu yang tidak lama.

Dan terakhir, ini benar-benar terakhir; 
Selamat tinggal dunia (maya)!

Comments

  1. Semangat kak, selalu ingat Allah never put you in the situation you can't handle

    ReplyDelete
  2. Selamat beristirahat. Semoga kembali cepat.

    ReplyDelete
  3. Nikmati waktunya dan bahagialah.

    ReplyDelete
  4. Jaga kesehatan ya bang, kutunggu kembali mu :)

    ReplyDelete
  5. Jaga kesehatan kak dan semangat terus menulisnya.

    ReplyDelete
  6. Gapapa, yang paling terpenting berserah

    ReplyDelete
  7. Semangat selalu kak dayat! Jaga diri baik2 yaa semoga lekas membaik, we support u! ��

    ReplyDelete
  8. Fighting for ur life kak. Remember ur not alone, many good ppl alwys with u:)

    Luv<3

    ReplyDelete
  9. Semangat bang, jaga kesehatan selalu ingat Allah dan semoga lekas membaik :)

    ReplyDelete
  10. Penatmu juga butuh tempat bang. Selamat rehat ya, stay safe, stay healthy. Aku menunggumu, eh kita maksudnya hahaa

    ReplyDelete
  11. Semangat bang, dan semoga lekas membaik!!

    ReplyDelete
  12. semoga tuhan selalu memberi kebahagian disetiap langkah bang :" aku bahagia dan kita lu juga bang harus bahagia

    ReplyDelete
  13. Selamat rehat bang, btw sekarang udh lebih dari 20 hari di perantauan ya? Semoga lekas membaik :)
    salam, temandayatpiliang.

    ReplyDelete

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar sebagai bentuk apresiasi kamu terhadap karya tulisku.

Popular Posts