Pernah ada wanita cantik hadir di hidupku. Kami cukup dekat sekadar disebut teman.

Aku lupa kapan tepatnya, tetapi kami bertemu dan berkenalan kali pertama dalam sebuah acara di Kota Hujan. Kala itu aku sedang mabuk demi menghilangkan canggung karena harus tampil di atas panggung, membacakan puisi tentang dua orang petani yang ditangkap atas tuduhan perampokan juga pembunuhan. Bukan puisi yang ditulis olehku, aku hanya membacakannya saja.

Sejak pertemuan pertama kami, esoknya aku mengajak wanita itu bertemu di kedai kopi tepi sawah milik temanku. Kami duduk berhadapan, sambil memandang langit sore yang indah di tengah-tengah hamparan sawah, disertai dengan kicau burung yang terbang ketakutan karena diusir oleh bocah-bocah yang sepertinya ditugaskan untuk menjaga padi yang sedang menunggu masa panen.

“Maaf…” itulah kata yang keluar dari mulutku membuka obrolan pertama kami. Aku merasa sangat bersalah karena mengajak ia berkenalan dalam keadaan mabuk malam itu. Tapi, jika saat itu aku tak mabuk, mungkin aku tak cukup berani mengajaknya berkenalan. Ya, salah satu ketololanku dalam hidup ialah sulit berbicara dengan wanita; apalagi jika aku punya ketertarikan berlebih dengannya.

Lama kami berbincang. Sore, petang, dan larut malam pun menjelang. Kami bertukar banyak cerita untuk saling mengetahui satu sama lain. Namun karena terbatasnya waktu—kedai kopi temanku hendak tutup, mau tak mau kami harus mengakhiri obrolan yang amat menyenangkan. Jujur, sudah lama aku tak merasakan bahagia dalam hidupku; ini fakta, bukan diada-ada. Apalagi dipandangi oleh kedua bola mata indah yang memandangiku dengan teduh. Tentu aku tak ingin lepas memandangi bola mata yang juga memandangiku. Juga melihat gerak bibirmu yang ayu; yang sesekali menyunggingkan senyum, berhasil menghanyutkanku dalam arus yang membawaku pada bayang-bayang indah di masa depan.

Oke, sepertinya yang terakhir itu berlebihan.

Malam sudah larut dan kami harus segera pulang ke tempat tinggal masing-masing. Tidak seperti kebanyakan anak-anak muda di kota besar yang biasanya mampir ke hotel murah terdekat, kami benar-benar berpisah menuju rumah; tentu dengan aku yang melepas kepulangannya bersama abang-abang ojek online berjaket hijau. Meski malam itu dalam kepala kami sama-sama menginginkannya, tetapi tak elok rasanya melakukan hal itu pada kencan pertama.

Pertemuan itu sungguh melegakan. Kebodohanku mengajaknya berkenalan dalam keadaan mabuk terbayar sudah dengan perkenalan yang baik dan benar. Setelah pertemuan itu, kami berkomunikasi cukup intens melalui telepon dan terkadang chat. Aku memulai pagi dengan berbincang singkat dengannya sebelum ia berangkat menjalani rutinitasnya. Sempat ia mengeluh perihal aku yang slow respon ketika ia mengirimkan pesan, namun aku memberikan penjelasan kalau aku bukan tipikal orang yang senang dalam bertukar kabar melalui pesan teks.

Kami juga sempat bertemu kembali sebelum aku pergi ke Bali. Iya, Bali. Pulau yang sudah kuanggap sebagai rumah keduaku karena aku menghabiskan masa-masa sekolah menengah atas yang menyenangkan di sana. Sebenarnya saat itu aku hendak pulang ke kota kelahiranku, Medan. Tapi sepupuku menyuruhku untuk ke Bali terlebih dahulu, ia juga ingin pulang dan menyuruhku untuk pulang bersama-sama agar ada teman di perjalanan. Padahal bisa saja dia ke kotaku, tapi aku memilih nurut. Toh dia juga yang bayar tiketnya.

Sesampainya di Bali, aku masih berkomunikasi dengannya. Tapi tak seintens yang sudah-sudah. Aku akui, ini salahku. Aku sibuk karena terlalu banyak agenda bertemu dengan teman-temanku yang sudah lama tak kutemui. Bertemu teman yang ini dan yang itu, mengunjungi tempat-tempat yang berkesan selama aku menghabiskan masa remaja di sana, dan motoran sendirian melintasi jalanan mengitari berbagai daerah seperti yang biasa kulakukan selama di sana. Terlalu sibuk sampai aku tak sempat membuka ponselku.

Kupikir, ia akan mengerti. Namun ternyata tidak. Sampai tibalah satu momen yang tak bisa kulupakan sampai sekarang.

Pagi itu, aku terbangun mendengar dering ponselku. Kulihat namanya tertera di layar panggilan. Segera kuangkat. Tak ada suara. Beberapa detik kemudian, terdengar suara isakan yang kemudian pecah menjadi suara tangis. Aku tak tahu apa masalahnya. Tak lama, telepon itu dimatikan begitu saja. Sudah lama aku tak memulai pagi dengan rasa panik. Terakhir saat aku masih bekerja ketika melihat atasanku marah-marah di grup whatsapp kantor. Tapi ini jauh lebih menegangkan dari itu.

Dengan sigap aku menelponnya, mencari tahu apa masalahnya. Akhirnya ia berkata jujur. Berkurangnya komunikasi kami menjadi penyebab dari rasa sedihnya. Tak tahu harus berkata apa, aku hanya mengucap kata maaf dan perlahan menenangkannya. Aku tak mau paginya rusak karenaku. Harinya masih panjang dan rutinitasnya tentu menumpuk. Dan aku katakan akan mengusahakan mengubah sikapku yang belakangan terkesan abai padanya. Tidak menjanjikan, namun aku akan mengusahakannya dengan perlahan. Aku bukan tipikal orang yang berani menjanjikan sesuatu yang tak bisa kutepati.

Pagi itu, masalah selesai. Dia kembali tenang dan panikku telah hilang. Tapi apakah masalahnya hanya sampai di situ? Tentu tidak! Dia wanita yang tidak biasa.

Berkali-kali aku sudah mengatakan padanya kalau aku bukan tipikal orang yang suka bertukar kabar melalui pesan teks. Dan ketika mengabaikan pesannya, bukan berarti aku tak menjadikan ia prioritas dalam hidupku. Sederhananya begini, alasan aku tak suka bertukar kabar melalui pesan teks lebih karena pekerjaanku sebagai seorang penulis. Memang tak semua penulis akan sama sepertiku, namun ini sama misalnya seorang penyanyi yang setiap hari bernyanyi dari panggung ke panggung, bahkan dalam satu hari ia bisa bernyanyi di beberapa panggung, namun ketika ia punya waktu libur, teman-temannya mengajaknya pergi mencari hiburan untuk berkaraoke bersama. Analoginya kurang dekat? Baiklah begini, ini sama seperti kau melakukan pekerjaanmu, kemudian atasanmu menghubungimu di hari libur atau di luar jam kerja dan memintamu untuk mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaanmu. Bukannya benci, tetapi lebih ke.. pusing banget ngga sih??! Waktu senggang dipakai buat mikir lagi.

Ya, begitulah. Menulis pesan teks artinya aku harus merangkai kata demi kata. Pekerjaanku sebagai seorang penulis mengharuskanku menulis dengan hati-hati dan dengan susunan kata-kata yang rapi dan enak dibaca. Meski itu tak harusnya kulakukan ketika bertukar pesan teks dengan seseorang, namun pekerjaanku membuat aku terbiasa seperti itu. Ini memusingkan bagiku.

Seperti yang kukatakan, sudah berkali-kali kukatakan padanya.

Dua hari setelah pagi yang menegangkan itu, ia kembali mengeluhkan hal yang sama. Saat itu aku sedang duduk sendirian di Starburks tepi pantai Kuta. Aku membeli minuman favorite-ku; asian dolce frappuccino, dengan single shoot coffee juga whippedcream di atasnya. Tak lupa memesan espresso brownies yang nikmat dan lembut saat di mulut. Siang menjelang sore yang indah untuk dihancurkan dengan satu pesan teks berisi keluhan yang sama. Padahal aku sudah memberikan pengertian akan mengubahnya perlahan, tidak bisa instan.

Kutenangkan diriku, memikirkan solusi terbaik. Perlu digarisbawahi kalau kami belum menjadi siapa-siapa. Belum ada kata jadian secara resmi; yang mana artinya kami belum sah untuk dikatakan punya hubungan sebagai kekasih.

Aku mengeluarkan tumbler Starbucks putih dari tasku. Isinya bukan kopi, tetapi arak Bali yang kubeli malam sebelumnya di minimarket. Harga yang tak murah karena sebotol harganya hampir tiga ratus ribu rupiah. Agak ada penyesalan karena yang tak resmi alias tanpa cukai atau produksi rumahan bisa didapatkan dengan harga enam puluh ribu rupiah dan itu isinya hampir satu botol penuh ukuran air mineral satu setengah liter. Kutuangkan arak itu pada cangkir kecil yang terbuat dari kertas lalu kutenggak dengan lekas. Tenggorokanku seketika panas. Salah waktu, pikirku. Tak semestinya aku menenggak arak pada siang menjelang sore di tengah-tengah udara panas Pulau Dewata. Tapi ya mau bagaimana, aku perlu berpikir.

Sebentar, jangan mengira aku pemabuk, ya! Tidak! Sama sekali tidak. Setidaknya sekarang sudah tidak. Sebenarnya dahulu juga tidak, lebih ke peminum saja, bukan pemabuk. Tapi sekarang sudah sama sekali tidak. Oke, mari balik ke cerita.

Matang-matang aku berpikir. Kubuat keputusan yang mungkin bertentangan dengan inginku, keputusan yang akan memutuskan rasa bahagia yang baru saja tiba, keputusan yang pasti akan menghadirkan luka. Mau tak mau aku harus membuat keputusan itu; memutuskan hubungan yang belum berjalan. Iya, kuputuskan untuk berjalan masing-masing.

Kukatakan padanya kalau ini tak lagi bisa kita lanjutkan. Aku bisa berubah, namun tidak bisa instan. Bukan salahnya, ini perihal kecocokan dua manusia ketika bersama. Sama-sama ingin bukan berarti sama-sama cocok, kan? Ibarat kau tertarik dengan sepatu di etalase toko, namun tak menyediakan ukuranmu. Tak cocok. Kalau dipaksakan, akan sakit karena kekecilan atau aneh karena kebesaran. Kusarankan padanya untuk mencari pria yang lebih dari aku; yang bisa fast respon ketika bertukar pesan, bisa selalu ada ketika dibutuhkan, dan selalu siap sedia saat diminta untuk datang berbagi pelukan. Aku rela melepas, karena untuknya aku tak cukup pantas.

Terdengar klise memang, tapi asal dia bahagia, aku akan.

Aku paham, ini pasti karena ia cantik, menarik, dan diperebutkan banyak lelaki. Pasti kisah cintanya yang terdahulu begitu berkesan karena selalu diperjuangkan dengan berbagai macam jenis laki-laki. Sedangkan aku laki-laki biasa ini tak cukup bisa memuaskan hasratnya dalam memadu rasa. Lagi-lagi, ini bukan salahnya. Bukan salahnya minta diratukan, bukan salahnya minta diperjuangkan, bukan salahnya minta diperhatikan. Ini cuma perihal cocok dan tidak cocok. Kan ada kekurangan yang bisa kita toleransi dan ada yang tidak. Mungkin kurangku ini benar-benar menyiksa baginya dan kekurangannya sedikit tak nyaman dan membuatku tidak tenang dalam menjalani hari-hari karena terus dibayang-bayang tuntutan harus begini dan begitu.

Bukankah pisah lebih baik daripada bertahan namun saling tersiksa?

ditulis pada hari jumat, 11 november 2022, menjelang pukul sembilan pagi di kota medan.

Dukungan untuk Penulis

Terima kasih sudah membaca tulisan dari Dayat Piliang. Jika kamu suka, traktir Dayat secangkir kopi sachet sebagai bentuk dukungan agar terus konsisten berkarya!

Tinggalkan komentar